MUTIARA, SI POHON TUA

Terdengar suara dedaunan bergesekan oleh angin. Mentari pun tak enggan memberikan cahayanya yang hangat. Suasana di pegunungan begitu damai. Sudah lebih dari 100 tahun kurasakan suasana seperti itu.
                Aku adalah pohon tua yang berdiri di antara suasana seperti itu setiap harinya. Setiap pagi aku menghirup gas karbondioksida dan menyerap air untuk bahan makanan yang aku masak. Dengan bantuan matahari, aku memasak dan mengahasilkan gas oksigen untuk manusia dan hewan.
                Aku adalah pohon terbesar di pegunungan. Seorang gadis kecil dan teman-temannya memanggilku Mutiara, Si Pohon Tua. Daunku begitu lebat dan berkumpul sehingga membentuk bulat. Siang atau pun malam , daunku memantulkan sinar mentari atau pun bulan yang memebuatku seperti mutiara besar di pegunungan.
                Setiap pagi sampai sore, gadis kecil dan teman-temannya bermain di bawah daun-daunku yang teduh. Mereka berteduh dan bermain dengan sangat gembira. Namun lama-kelamaan mereka tumbuh menjadi dewasa. Mereka tidak lagi bermain di bawah dedaunku.
                Sudah sepuluh tahun berlalu semenjak gadis kecil dan teman-temannya meninggalkanku. Pohon-pohon lain di sekitarku pun satu per satu ditebang. Aku semakin kesepian. Tak ada yang merawatku. Buahku pun membusuk di rantingku lalu jatuh ke tanah. Daun-daunku juga berguguran. Tanah di sekitarku kotor oleh daun dan buah yang membusuk. Burung-burung juga tak berkicau dan membuat sarangnya di rantingku lagi. Yang tertinggal hanyalah sarangnya yang tak berpenghuni. Yang dapat kulakukan pun hanya menunggu sesuatu yang ditentukan oleh Tuhan.
                Suatu hari ada seorang gadis cantik jelita menemuiku. Ia mengelusku dan menatapku dengan iba. Ia membersihkan buah dan dedaunan yang busuk di sekitarku. Kemudian ia beristirahat di bawah daun-daunku yang rimbun. Dia menulis sesuatu di sebuah buku sambil bersenandung             
                Sekarang aku ingat. Gadis itu adalah gadis kecil yang sama 10 tahun yang lalu. Andai aku bisa bicara dengannya, aku akan berterimakasih padanya. Namun aku juga sudah bahagia dengan adanya gadis kecil di sampingku.
                Setiap pagi ia menemuiku. Membersihkan halaman di sekitarku dan memberiku cukup air. Namun suatu hari saat gadis kecil menemuiku, ia mengelusku dan menangis di bawah daun-daunku. Aku bingung, mengapa ia menangis? Aku ingin menghiburmu. Duduklah di bawah daun-daunku yang teduh. Bersenandunglah untukku. Aku akan menjagamu, gadis kecil.
                Namun di hari itu ia tidak bermain di bawah daun-daunku. Ia pergi. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Andai aku punya kaki, aku akan mengejarmu.
                Keesokan harinya, banyak orang yang menghampiriku. Apakah mereka ingin bermain denganku? Hatiku sangat bahagia. Akan tetapi, mereka malah menebangku. Aku sedih, mungkin ini sudah saatnya aku ditebang. Aku memang pohon tua yang tak berguna.
                Saat ditebang, aku melihat gadis kecil menatapku dengan rasa iba. Maafkan aku, gadis kecil. Aku tak dapat bersamamu lagi. Padahal aku ingin selalu di dekatmu.
                Seluruh daunku dipangkas dan dibakar. Ranting-rantingku dijemur dan dijadikan kayu bakar. Buah-buahku yang masih bagus dijual. Batangku dibuat menjadi kursi goyang. Aku hidup di kursi goyang tersebut. Aku diletakan di dalam sebuah rumah. Setiap hari aku diduduki oleh seorang gadis cantik. Tidak lain gadis itu dalah gadis kecil.
                Aku senang. Ia masih bersenandung untukku. Terimakasih, Tuhan! Sekarang aku dapat memberikan kenyamanan lagi untuk gadis kecil. Bahkan sampai tua pun gadis kecil masih bersamaku.

pepaya dan melon sama enaknya

Suatu hari di sebuah desa di bulan Ramadhan, diadakanlah sebuah perayaan untuk mensyukuri hari ulang tahun desa yang bertepatan pada hari itu. Perayaan ulang tahun itu diisi dengan seminar Asma'ul Husna. Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak diundang ke acara seminar tersebut. Karena seminar Asma'ul Husna diadakan bertepatan pada bulan Ramadhan, makan acara seminar tersebut akan diakhiri dengan buka puasa bersama. Disinilah cerita ini dimulai.

Entah kenapa hari itu sang anak merasakan lapar yang jarang ia rasakan selama menjalankan ibadah puasa, mungkin dikarenakan sahurnya yang sedikit atau dikarenakan sebab yang lain. Disaat mengikuti seminar tersebut sang anak pun berusaha menahan laparnya.Waktu berlalu hingga akhirnya hari beranjak senja, "sebentar lagi akan magrib" begitu fikirnya. Kebetulan didekatnya sudah terdapat nasi kotak yang akan dibagikan untuk buka puasa bersama. Dikarenakan oleh rasa lapar dan hawa nafsunya, ia pun sudah menyisihkan 1 kota untuk dirinya. karena tempat untuk wanita dan pria terpisah, ayah dan sang anak duduk berdampingan, dan sang ibu berada di tempat wanita.

singkat kata, adzan magrib sudah berkumandang, setelah membatalkan puasa dengan semangkuk kolak pisang dan segelas air putih, dilaksanakanlah sholat magrib berjamaah yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Sang anak dengan sigap meraih nasi kotak yang telah disisihkannya.Ketika melihat sang ayah, beliau telah memperoleh nasi kotaknya sendiri, tetapi ketika sang anak melihat sang ibu, sang ibu terlihat tampak kebingungan untuk mencari sekotak nasi untuknya, dikarenakan banyaknya orang yang mengantri untuk mengambil sekotak nasi. Sang anak seketika itu pula teringat akan materi seminar yang baru saja ia ikuti "Allah SWT berfirman dalam hadist qudsi yang berbunyi "Wahai Musa, apabila ada hamba-KU yang berbuat baik kepada kedua orangtuanya sedangkan ia durhaka kepada-KU, makan aku akan tetap memasukkannya kedalam golongan orang-orang yang baik, tetapi apabila ada hamba-KU yang berbuat baik kepada KU tetapi durhaka kepada kedua orang tuanya, maka sesungguhnya ia termasuk golongan orang-orang yang durhaka".

Teringat akan hal itu, dan dengan rasa cinta yang besar terhadap kedua orang tuanya terutama ibunya, sang anak bergegas menghampiri ibunya mengalahkan nafsunya untuk memberikan nasi kotak yang sudah ada ditangannya. Disaat sang ibu menerima sekotak nasi dari anaknya, terlihat kedua mata sang ibu ibu berkaca-kaca dikarenakan sang ibu merasakan cinta anaknya terhadap dirinya. Sang anak berkata "bu, ini nasi kotak untukmu", sang ibu menjawab "apakah ayahmu sudah makan wahai anakku?", sang anak menjawab "sudah ibu", kemudian sang ibu bertanya kembali "apakah engkau sudah makan wahai anakku?", sang anak dengan wajah tersenyum menjawab "sudah ibu", walaupun sang anak tau bahwa tidak ada lagi nasi kotak yang tersisa, yang tersisa hanya sisa-sisa potongan pepaya dan melon.

Melihat kedua orang tuanya sedang menikmati makananya, dan melihat orang-orang disekelilingnya sedang menikmati makanannya, sang anak mengambil 2 buah pepaya potong dan 2 buah melon potong, dan sambil tersenyum sang anak berdoa "Yaa Alloh, maafkanlah hamba, maafkanlah kedua orang tua hamba, sayangilah keduanya, seperti mereka menyayangiku sejak kecil" Hasbunalloh wani'mal wakiil, pada saat itulah sang anak merasakan pepaya dan melon paling nikmat dalam hidupnya
Diberdayakan oleh Blogger.